Bursa Saham Ambrol, Rupiah Dekati Lagi Rp 15.000/US$!

Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (16/9/2022), mendekati lagi Rp 15.000/US$. Sentimen pelaku pasar yang memburuk membuat rupiah tertekan.

Begitu perdagangan dibuka, rupiah langsung melemah 0,17% ke Rp 14.920/US$. Setelahnya rupiah terus melemah hingga 0,43% ke Rp 14.950/US$. Level tersebut merupakan yang terlemah sejak 2 Agustus lalu.

Di penutupan perdagangan rupiah berada di Rp 14.950/US$, melemah 0,37% di pasar spot

Sentimen pelaku pasar yang memburuk terlihat dari bursa saham AS (Wall Street) yang kembali ambrol.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 173 poin, atau 0,56% menjadi 30.961,82.S&P 500 turun 1,13% menjadi 3.901,35 dan Nasdaq Composite turun 1,43% menjadi 11.552,36.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ikut terseret hingga jeblok 1,9%

Ekspektasi bank sentral AS (The Fed) masih akan sangat agresif dalam menaikkan suku bunga membuat Wall Street ambrol di pekan ini. Inflasi yang tinggi menjadi pemicunya.

Departemen Tenaga Kerja AS Selasa lalu melaporkan inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) Agustus sebesar 8,3% year-on-year (yoy). Dengan demikian, inflasi di Amerika Serikat sudah menurun dalam 2 bulan beruntun.

Namun, rilis inflasi tersebut masih lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 8%.

Selain itu, inflasi inti, yang tidak masukkan sektor energi dan makanan justru naik 6,3% (yoy), lebih tinggi dari bulan Juli 5,9%.

Dengan inflasi yang masih tinggi, The Fed hampir pasti akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin bahkan ada kemungkinan sebesar 100 basis poin pekan depan.

Hal ini terlihat dari perangkat FedWatch milik CME Group, di mana pasar melihat probabilitas sebesar 67% The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, dan probabilitas sebesar 33% untuk kenaikan 100 basis poin.

Suku bunga The Fed saat ini 2,25% – 2,5%, jika naik 100 basis poin akan menjadi 3,25% – 3,5%. Alhasil, risiko resesi di Amerika Serikat semakin meningkat, pasar finansial pun tertekan. Dolar AS yang menyandang status safe haven menjadi buruan, rupiah pun jeblok.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.